Kamis, 15 April 2010

TREN ARSITEKTUR MINIMALIS; good bye, again ?


arsitektur-kontemporer-rumah-minimalis

GAYA ‘MINIMALIS’ DALAM ARSITEKTUR

Gaya yang diklaim sebagai arsitektur minimalis yang tengah marak saat ini pada dasarnya bukan bentuk arsitektur baru ataupun eforia baru. Model gaya seperti ini sudah lama muncul di masyarakat tradisional, lalu diidentifikasi sebagai sebuah model yang lebih kokoh keakuannya di awal tahun 1920-an, dan disepakati telah bersemi kembali mulai tahun 2000-an. Tentunya bahwa gaya ini telah hadir dengan motivasi, interpretasi dan aplikasi ”tertentu” yang khas dari satu generasi ke generasi lainnya.

Konteks minimalis sebenarnya tidak tumbuh khusus untuk arsitektur saja. Kritikus seni Juan Carlos Rego (Minimalism: Design Source, Singapore, 2004) mengatakan, minimalis merupakan pendekatan estetika yang mencerminkan kesederhanaan. Fenomena ini tumbuh di berbagai bidang, seperti seni lukis, patung, interior, arsitektur, mode dan musik.

Minimalis dalam arsitektur menekankan hal-hal yang bersifat esensial dan fungsional. Bentuk-bentuk geometris elementer tanpa ornamen atau dekorasi menjadi karakternya. Awal munculnya model minimalis sebenarnya sudah ada pada masyarakat tradisional contohnya di Asia yakni Jepang dengan konsep keheningan zen, sedang di dunia barat sendiri para arsitek mulai mencari bentuk baru untuk mendobrak gaya-gaya klasik sejalan dengan ramainya kemajuan sebagai dampak dari Revolusi Industri awal abad ke-20. Pada saat itu situasi sangat mendukung bahkan memberi tantangan baru dalam dunia rancang bangun karena pesatnya inovasi material bangunan seperti baja, beton dan kaca, juga dalam sistem standardisasi dan efisiensi. Kehadiran arsitektur minimalis pada saat itu diidentifikasi pada karya-karya Le Corbusier dan Ludwig Mies van der Rohe.

LANDASAN BER-‘MINIMALIS’

Alasan mengapa bangunan kita harus memakai suatu gaya harus jelas sebagai titik penentuan sikap. Hal ini karena yang namanya desain ”tidak ada yang benar dan juga tidak ada yang salah”. Namun demikian standar proporsional harus tetap dijaga, karena terlalu minimalis akan menjadi steril, terlalu teratur akan menjadi membosankan, terlalu kompleks akan membingungkan. Arsitek sebagai ujung tombak pemberi ide bagi klien harus sportif. Arsitek perlu meletakkan karyanya terhadap sebuah trend secara obyektif dan tidak hanya mengakomodasi eforia model. Etikanya, bagi klien dalam hal ini masyarakat pemakai perlu diajak bernalar atas suatu gaya bangunan yang dipilihnya. Sebab apapun gaya yang dipilih tentu ada konsekuensi logis, ada kekurangan dan kelebihannya sehingga bisa ditimbang apakah cocok baginya atau tidak.

Ada beberapa pertanyaan yang sebelumnya perlu dijawab secara personal untuk menentukan posisi kita terhadap paham minimalis. Oleh karena sifatnya subjektif maka tanpa saling memaksakan pandangan, mari menjawabnya dengan logika sederhana.

  • Apakah kalau kita memakai pendekatan gaya arsitektur minimalis maka harganya murah karena minimal?
  • Apakah arsitektur minimalis itu harus tercermin kepada kehidupan pemakainya yang simple?
  • Apakah arsitektur minimalis bisa diterapkan dimana saja (misalnya lintas iklim, lintas budaya dan lintas pendapatan ekonomi) karena konsep sederhana adalah universal?
  • Apakah minimalis itu adalah estetika gaya atau sekedar cap/merk untuk sebuah trend?

Sebagai orang yang menghuni tanah Indonesia pastinya jawaban-jawaban lugas akan keluar sebagai penegasan posisi memandang hal tersebut. Bagaimana dengan di tempat-tempat asal gaya minimalis bertumbuh apakah pemikirannya sejalan dengan pandangan atau jawaban kita?

Pertama-tama menarik untuk kita lihat perkembangan awal dari sejarah gaya minimalis menurut teori di barat diawal abad-19, dalam hal ini pada masa International Style.

Sebenarnya dasar perkembangan gaya yang berlangsung diantara masa International Style dengan masa pertengahan modern masih tidak lepas dari pengaruh gaya beberapa tokoh Avant Garde. Tokoh-tokoh tersebut seperti ; Le Corbusier (Perancis), Walter Gropius (Jerman), Mies Van der Rohe (Jerman) dan J.P. Oud (Belanda). Kesimpulannya, gaya-gaya mereka adalah : Humanisme, Ekspresionisme dan Idealisme.

Ada beberapa prinsip dasar untuk mengenali ciri khas International Style ini:

  • Prinsip pertama yang bisa dilihat dalam karakter arsitektur bangunan International Style adalah kesan non-volume. Efek massa dan kesolidan yang statis memang masih penting tapi mulai menghilang. Pada bangunan-bangunan yang baru selanjutnya hanya ditemui ‘efek’ volume atau tepatnya karakter permukaan yang membungkus volume.
  • Prinsip kedua yang bisa diidentifikasi dalam International Style adalah reguralitas. Model reguralitas yang ada adalah pola-pola Gotik. Sebagaimana diketahui Gotik sangat signifikan dengan irama regulernya. Bidang-bidang penampakan memiliki banyak unsur-unsur pengulangan, baik yang terjadi pada jendela, struktur maupun ornamen.
  • Prinsip ketiga yang terlihat adalah penghindaran memakai dekorasi. Warisan gaya yang berkembang pada abad 18 yang penuh ornamen dekoratif mulai ditinggalkan

Internasional Style dipengaruhi juga oleh gaya fungsionalisme. Namun meski para Fungsionalis masih menolak bahwa estetika elemen Arsitektur itu penting, banyak objek yang dibangun dengan memakai elemen estetika, tentunya tanpa mengorbankan fungsi.

Bagi International Style, sesuatu itu adalah seperti halnya apa yang telah hadir saat ini dan sesuatu tentang masa depan tidak harus digudangkan (disimpan).

Prinsip-prinsip tersebut sebagian lalu diangkat kembali dijaman sekarang ini untuk disegarkan lagi khususnya di “tanah” kita, Indonesia.

Bagaimana dengan awal konsep minimalis di timur? Masyarakat di Timur jauh secara kultural telah menganut sistem gaya ini sebagai kejujuran sikap berharmoni dengan alam (dalam konteks hidup tradisional).

Jepang misalnya sudah sejak lama secara tradisional menerapkan unsur minimalis pada bangunan rumah mereka. Tatanan vertikal-horizontal, ruang serba multi fungsi yang sangat fungsional, tempat tidur (tatami) bisa dilipat dan disimpan sehingga melegakan ruangan, dinding interior dari sekat partisi bukan berupa tembok beton tebal yang berat dan masif, pintu geser yang pergerakannya minimalis karena menempel masuk ke dinding sehingga tidak mengganggu kegiatan dan perabot.

Satu hal yang bisa dicatat dalam pemakaian konsep minimalis antara Jepang dan Barat adalah bahwa motivasi keduanya berbeda, tetapi lokasi aplikasinya sama-sama beriklim subtropis dingin.

arsitektur-minimalis

MODEL MINIMALIS HARGA MAKSIMALIS

Pernyataan diatas sekaligus menjadi pertanyaan awam seputar kehadiran model minimalis. Kontroversi fakta yang terjadi kalau boleh dikatakan sebagai “skandal” membingungkan antara praktek dan teori. Model minimalis dapat saja secara filosofi berarti cara hidup jujur, praktis dan sederhana, lalu menerapkan sesuatu pada bangunan hanya yang bersifat esensial dan fungsional saja baik dalam estetika, ruang, bentuk dan struktural. Mari kita ambil contoh sederhana dengan mengandaikan masyarakat kalangan bawah sebagai gambaran “minimalis” ala Indonesia.

RSS (Rumah Sederhana Sehat) sebenarnya menerapkan filosofi yang sama yakni di-minimkan segala-galanya, model desainnya saja yang bervariasi. Harga RSS pun kenyataanya tidak serta-merta murah. Artinya secara praktis model yang sudah serba minim tersebut tidak berarti pengurangan dari sisi biaya. Ada beberapa hal yang sudah standar untuk sebuah bangunan sehingga “tidak enak” kalau tidak bisa dibilang “tidak boleh” untuk direduksi, misalnya struktur utama, ukuran luasan ruang tertentu dan beberapa ornamen tertentu karena menyesuaikan tuntutan iklim setempat. Satu-satunya yang bisa ditawar adalah finishing. Finishing dapat memakai material murah berkesan mewah untuk berhemat, atau juga dapat menggunakan material mahal sehingga terkesan berkelas oleh karena ada tuntutan prestise.

Pada kenyataannya ornamen-ornamen bangunan minimalis jarang yang murah pembuatannya bahkan satuan materialnya sendiri jarang yang murah. Mungkin karena kenyataan ini sehingga rumah mewah pun menjadi pantas-pantas saja memakai ornamen tersebut, disamping memang lagi ikut trend. Tidak heran jika rumah-rumah desain minimalis terkenal di Jakarta banyak terdapat di dalam perumahan elite, alhasil harganya menjadi maksimalis.

Disamping itu ada juga biaya-biaya pasca huni sebagai konsekuensi model minimalis. Sebagaimana yang biasa kita temui, ciri khas ornamen horizontal minimalis salah satunya adalah kanopi beton persegi pas diatas bukaan pintu maupun jendela. Model minimalis bahkan ada yang menghapus komponen ini. Jika ada maka kanopi ini lebih cenderung bersifat sebagai hiasan ketimbang memberikan fungsi perlindungan (naungan) penuh atas ekstrimnya cuaca tropis. Hal ini menyebabkan sisi luar kusen berhadapan langsung dengan cuaca hujan maupun panas terik. Konsekuensinya, agar bangunan tetap bersih, tidak lumutan dan cat selalu cemerlang maka perlu ada biaya ekstra untuk perawatan.

Kurangnya lindungan kanopi pada jendela-jendela menyebabkan ruangan menerima cahaya matahari langsung. Kondisi ini menyebabkan radiasi panas di musim panas dan kemasukan hujan di musim hujan. Solusi praktisnya biasanya dengan tutupan kaca. Kemudian jawaban berlanjut dengan pemasangan AC. Dalam kondisi ini AC akan bekerja keras dan berujung pada ongkos listrik.

SO LONG… MINIMALIS

Rentang masa aplikasi model minimalis di Indonesia sebetulnya lebih cepat pudarnya jika dibandingkan dengan di negara-negara beriklim non-tropis. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa ada unsur bangunan yang sudah standard sehingga tidak nyaman untuk direduksi atau diminimalisasi. Batas standard ini biasanya terpetakan dalam rupa iklim, kultur, lokalitas dan sebagainya. Kita tinggal di wilayah yang beriklim tropis sehingga otomatis bangunannya harus menyesuaikan diri. Ciri utama bangunan tropis adalah kanopi yang panjang dan membentang disepanjang dinding, sehingga memberikan perlindungan atau naungan penuh pada fisik bangunan dari cuaca ekstrim iklim tropis. Naungan penuh pada bangunan berarti kenyamanan penuh, jelas tidak praktis di konstruksi awalnya namun praktis ke masa depannya, less maintenance dan low cost.

Gaya Minimalis boleh dikatakan sudah menjadi isu unik bagi pemilik dan calon pemilik gedung bahkan ada yang menjadi fanatik. Kondisi tersebut menjadi konsumsi baru dalam metabolisme dunia perancangan arsitektur. Seandainya keunikan ini bergeser pada saatnya nanti maka dapat dipastikan pergeseran tersebut karena banyak alasan yang mungkin karena eforia model, mungkin karena ornamen minimalis kurang cocok dengan iklim tropis, mungkin juga karena harga. Apapun itu kembali lagi pada pilihan hidup pemakai.

Gaya minimalis sebagaimana gaya2 lainnya memiliki masa sendiri. Saat ini trend-nya mungkin memuncak, namun sebagaimana trend mode / fashion ada saatnya akan berganti. Diluar negeri sendiri bahkan di negara tetangga sekalipun gaya ini tidak menonjol atau bahkan seheboh seperti di Indonesia. Sebagaimana diketahui komplek-komplek perumahan di Jakarta beramai-ramai mewajibkan paling tidak satu dari clusternya bergaya minimalis. Perumahan elit maupun RSS merasa belum afdhal kalau tidak menghadirkan gaya minimalis. Bahkan banyak yang ingin renovasi dari model klasik.

Kesimpulannya, apa yang menjadi pemicu cepatnya gaya minimalis segera mulai ditinggalkan di Indonesia sangatlah kompleks, tidak semata karena tidak sesuainya harapan atas tawaran untuk menjadi lebih efisien sebagai sebuah bangunan di daerah tropis, tetapi juga ada unsur filosofi yang tidak pas meyangkut harga dan gaya hidup pemakai ketika tinggal di bangunan tersebut. Boleh dikatakan gaya ini menjadi space of denials, menjadi pengingkaran terhadap kompleksitasan kehidupan. Yang perlu kita waspadai adalah bahwa dari pendekatan mencoba mengingkari melihat permasalahan atau kenyataan di seputar kita kemudian tetap ngotot menggali gagasan. Semua permasalahan lalu tetap dijawab dengan memakai kata minimalis

Akhirnya, adalah wajar jika gaya sebagai sebuah trend terus berganti. Karena kodrat makhluk hidup ialah menyempurnakan dirinya sendiri (otoperfektif). Satu saat masyarakat manusia menjadi jenuh dengan gaya yang seragam maupun yang terlalu lama tidak berubah karena ini gejala ketidaksempurnaan. Struktur baru lalu menjadi usang namun adalah bagian dari struktur yang besar. Begitupun bentuk dan pemikiran baru dalam gaya arsitektur akan terus mengalir, akan kembali digali, yang menelorkan komodifikasi ataupun perulangan yang berbeda dalam upaya menyempurnakan dirinya. Begitu seterusnya.

Jika demikian maka…so long minimalis, see you next time and welcome …(what’s next?)

for more

please click : http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/ydnugra/

THE INFORMATIONAL CITY: Is It A Cyberspace City?

dynamic-network-abstraction-green

What identity you’ve kept after dwelling with Facebook, YM or Twitter? Did your mind still remains in your self or trap in a representational spaces? Imagine if your mind surving into a define cityscape, become a part of a big city but lost in the city of information created by a cyber system.

‘Informational’ indicates a specific form of social organization in which information generation, processing and transmission become fundamental sources of productivity and power. In the new, informational mode of development the source of productivity lies in the technology of knowledge generation, information processing, and symbol communication. The specific of this mode of development is the action of knowledge upon knowledge itself as the main source of productivity. while informationalism is based on cheap information and oriented towards technological development - that is toward the accumulation of knowledge and towards higher levels of complexity in information processing.

The “informational city“ is constructed around flows: flows of capital, flows of information, flows of technology, flows of organizational interaction, flows of images, sounds and symbols” [Castells, 2000: 442]. In our society the space articulation of the dominant functions occurs in the network through the interactions made possible by computing devices. Instead, the nodes and the hubs of communication have a coordinating role for easy interaction of all elements integrated into the network. The nodes are also mobile devices that generate, transmit and receive signals in the global network of new media.

The space within the informational city can be characterized as a space in between a traditional ‘space of places’ and a virtual ‘space of flows’. Virtual space evolves as an overlay on this world, not an alternative to it. It evolves out of our real space and culture. However, it transforms us and the totality of relationships (political, social, cultural, physical). It is a new space of production and consumption and it revolutionizes the production of real space. Its production and reproduction happen along old lines of power and control. It is a political and ideological space and we have to apply the concepts and implications of corporal space and social space to this space too. Traditional Space (‘Space of places’) and virtual space (‘Space of flows’) can be integrated into a larger reality of social space. This calls for a new concept of space which is more and more a multilayered, topological, and ‘soft’ space. This space is not mappable and cannot be reduced to a conventional image and representation (Peter Gotsch, Karlsruhe, 2001).

infocity21infocity41

In the current debate on the information age it is questioned whether there actually is a profound societal change. Castells view is without doubt: the new technologies are different because the act on information itself, they are pervasive as the include all spheres of society, they have a new networked logic, they are extremely flexible, and they converge into highly integrated systems. I think this is not a technological determinism. The new technological paradigm is not only about technology in a narrow sense, it is e.g. about the organisation of work, the informational workforce and its qualifications, and the media world of Real Virtuality as well. And it includes the biotechnology of DNA mapping and manipulation, that basically is also a question of information and now makes us able to intervene deliberately with the basic codes of life itself.

As informationalism to Castells is based on the technology of knowledge and information, he sees a specially close linkage between culture and productive forces, between spirit and matter, in the informational mode of development (Castells 1996 p 18).

I think, in a direct sense, the electronic networks collapses into simultaneous interactivity the leading edge activities of economics, politics and media on a planetary scale, making the whole planet one city. In a metaphorical sense, the city is an image of society, with all its diversities, ongoing processes, contradictions, struggles and asymmetries, and ‘The Informational City’ is therefore ‘the global society’ of the information age. Another supplementary but later interpretation, towards which Castells (1996) possibly gives an opening, could be that the non-cyberspace city - the city of streets, facades, bodies in public space, and ‘real life’ activities here - can be seen as information interfaces and information processes as well, taking the new paradigms of the information age all the way through.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar